Untuk Kamu Yang Memutarbalikkan Duniaku.

Hari ini Boston sedang berbaik hati, langit mendung dan angin dingin yang biasanya jadi tamu sehari-hari sejenak pergi sehingga aku bisa duduk di halaman belakang dengan segelas coklat panas, sebatang rokok, dan hati yang tidak mau berhenti berdebar berlebihan. Aku benar benar harus berhenti minum kopi, mungkin menggantinya dengan teh panas atau coklat panas, sebagaimana aku rasanya benar benar harus berhenti memikirkan kamu yang terus menerus mengisi detik detik kosong dalam kepalaku.

Dalam 1068 hari kita bersama, tidak sekalipun aku pernah menuliskan apapun tentang kamu. Beberapa surel pernah aku kirimkan, surel ketika aku berusaha memenangkanmu kembali setelah malam yang kamu katakan sebagai malam jahanam, surel ketika aku menonton film yang membuatku merindukan diskusi diskusi sok tau kita, surel ketika kamu baru saja diwisuda dan aku panik memikirkan masa depan kita, surel ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu karena aku tidak mau lagi menderita, dan terakhir, surel ketika aku berusaha merasionalisasi berakhirnya hubungan ini dan mencoba berlapang dada.

Tapi, tidak sekalipun ada satu tulisan di sini yang merekam jejakmu, tentang betapa kamu membuat aku berbahagia, bersyukur, bersedih, dan berbagai macam perasaan lain yang datang menghampiri dalam masa masa kita bersama. Kamu adalah satu-satunya pasanganku yang tidak pernah aku glorifikasi dalam tulisan tulisan penuh romantisasi. Aku sudah berulang kali mempertanyakan kenapa tidak sekalipun diriku bisa merekam dan mencatat perasaanku ke kamu melalui guratan guratan tulisan yang seringkali kulakukan dahulu ketika bersama pasangan pasanganku yang sebelumnya.

Akhirnya aku menemukan jawabannya di kenyataan bahwa menulis akan selalu menjadi caraku mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkapkan secara langsung – rasa marah, sayang, cinta, apresiasi, kekaguman. Bersamamu, aku tidak butuh medium itu. Beribu-ribu kata dan perlakuan, baik dan buruk, yang ditutupi dan yang tidak, kamu bisa menebaknya, selalu dengan tepat dan benar. Aku merasa ditelanjangi sebagai manusia, satu tatapan darimu membuatku takut dan ingin bersembunyi karena aku tau tidak ada satupun yang bisa ditutupi dariku sebagai manusia. Di hadapanmu, semua kelebihan, kekurangan, kecemasan dan ketakutanku terpampang secara nyata. Dan sungguh, sebagai manusia aku takut dilihat dalam keadaan seperti itu dan kemudian ditinggalkan.

Tapi kamu tetap di sana. Memegang erat tanganku dan memelukku dalam serangan-serangan panik, mengusap air mataku di tengah episode episode depresi, memandangku dengan rasa sayang yang begitu luar biasa walaupun aku tengah menyerangmu dengan perkataan perkataan yang sangat menyakitkan. Kamu terus bertahan hingga akhirnya kamu sampai di titik terang bahwa memang pada akhirnya, kamu harus mencintai dirimu sendiri bagaimanapun kamu mencintai orang lain. Di tengah kenaifan dan egoku, aku berharap kamu akan terus di sana. Sampai akhirnya kamu pergi, dan sebulan dari kepergianmu aku masih terus mengais jejak-jejak dirimu, memikirkanmu di setiap detik dan nafasku, menangis tercekat kemudian bangkit lagi, bertanya terus dan terus kenapa kamu tidak lagi di sana.

Pagi ini aku terbangun di Boston yang mendung, menjalani rutinitasku – meminum pil antidepresan, menyeduh kopi, duduk di beranda rumahku dan berbincang dengan sesosok baru yang tengah mengisi hari-hariku belakangan ini. Seperti biasa, aku menghabiskan berbatang-batang rokok setiap kali aku tenggelam dalam obrolan yang menyenangkan. Dia anak yang baik, cerdas, dan penuh dengan kedewasaan meskipun usia kami terpaut hampir lima tahun. Perlahan, aku merasakan sedikit energi energi kehidupan kembali padaku ketika menghabiskan waktu dengannya. Aku kembali bicara tentang mimpi-mimpiku, tentang apa yang kusenangi dan tidak kusenangi, dan setidaknya apapun yang akan terjadi dengan kami nantinya, aku senang kehadirannya membawa banyak pelajaran untukku. Tapi kemudian, perasaan lain datang menghantui, mengingat bahwa kamupun sudah memiliki sosok itu dan aku duduk ribuan kilometer jauhnya membayangkan betapa kamu tengah berbahagia dan betapa menyedihkannya aku tidak lagi menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Lalu aku akan kembali membenci diriku karena aku sudah berjanji untuk berbahagia apabila kamu berbahagia, sekalipun bukan karenaku.

Batang rokok terakhirku habis dan aku memutuskan mengakhiri percakapan, dia tertidur, dan aku di ujung benua lain melanjutkan hidupku. Aku masuk ke kamar dan mengambil topi New York Yankees yang kamu hadiahkan untukku, memakai kacamata hitam, memasang headset, memutar lagu Lovely Day dari Bill Withers dan berjalan ke warung langgananku untuk membeli rokok. Di perjalanan kurang dari sepuluh menit tersebut, aku kembali merasakan kebahagiaan dan perlahan aku tersenyum mengingat betapa menyenangkannya menjadi bahagia karena hal hal remeh temeh seperti matahari yang bersinar, udara yang hangat, bau cucian yang baru kering, dan langit biru tanpa awan. Aku mengirimkan pesan ke Dara, menanyakan ‘bagaimana rasanya dan bagaimana jadwal kehidupan dari orang yang tidak depresi?’, aku sudah begitu lama terpuruk dalam lubang hitam dan seakan lupa caranya hidup. Dan hari ini, aku hidup kembali.

Maka dari itu, kuberanikan untuk menuliskan ini ke kamu. Karena kamu adalah orang pertama yang ingin kuberitahu tentang segala hal yang terjadi dalam hidupku. Mungkin karena kebiasaan, tapi entahlah, aku lebih suka berpikir itu karena kamu menggenggam sepotong jiwaku yang kubagi bagi sama rata dengan Oma, Papa, Mama, dan Kakak-Kakakku.

Ini bukan kali pertama aku menuliskan bahwa seseorang pergi dengan sepotong jiwaku. Kamu tentu tau cerita tentang cinta pertamaku. Ketika dia meninggalkanku, aku pun merasakan sakit luar biasa yang terakhir kali kurasakan ketika Papaku tidur dan tidak pernah terbangun lagi. Namun, kamu tentu tau seseorang lain datang dan kemudian menyembuhkanku. Perlahan aku hidup lagi, seperti hari ini, dan perlahan aku lupa tentang rasa sakit ataupun sayang yang kurasakan pada cinta pertamaku. Beratus ribu memori bahagia ataupun sedih yang kurasakan bersama dia, menguar bersama waktu. Cinta pertamaku tetap menjadi sahabatku, sebagaimana juga si Bintang Jatuh yang menyembuhkanku, tapi perasaan mencelos yang menyergap ketika memikirkan mereka sudah benar-benar tidak ada.

Aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa itulah takdir kita kedepannya. Tulisan ini akan kubaca bertahun-tahun dari sekarang dan mungkin aku hanya akan mengingatmu sebagai mana aku mengingat Tuan Putri si cinta pertamaku, dan si Bintang Jatuh yang menyembuhkanku. Memori yang sedikit demi sedikit menghilang hingga tidak tersisa lagi, sebuah babak dalam hidup yang dikikis oleh waktu. Tentu tidak ada salahnya menjadi memori, pada akhirnya orang orang datang dan pergi dalam hidup membawa pelajarannya masing masing dan aku tidak menafikkan pelajaran yang di bawa oleh Sang Putri dan Bintang Jatuh. Tapi, memori mereka tidak lagi membawa perasaan nelangsa sebagaimana memori tentang Papa masih membawa nelangsa padaku hingga detik ini. Namun, seberapapun sakitnya memori tentang Papa, aku tidak pernah mau berhenti melepaskan atau mengingatnya. Lima belas tahun telah berlalu sejak Papa pergi dan aku biarkan rongga kosong menganga dalam jiwaku, sebuah lubang hitam yang tidak pernah bisa ditutup atau disembuhkan.

Lantas, akan jadi apakah kamu? Babak dalam hidup yang akan terkikis waktu atau rongga kosong dalam jiwa yang tidak bisa tertutup selamanya?

Secara rasional tentu aku ingin kamu hanya jadi babak dalam hidup yang perlahan akan tergerus waktu sehingga akhirnya di tahun tahun kedepan aku mengingatmu dan melihat tulisan ini, aku bisa tersenyum dan mengatakan bahwa aku pernah jatuh cinta dan patah hati dan belajar dari orang ini. Tapi, di hatiku yang terdalam aku merasa remuk redam mengingat bahwa ternyata kamu tidak berbeda dengan Sang Putri dan Bintang Jatuh dan akan ada masa masa seperti ini lagi yang harus kulalui lagi dan lagi. Sampai kapankah aku harus terus mencari sesosok yang bisa kucintai hingga kepergiannya meninggalkan rongga kosong dalam hatiku? Yang dengan fakta tersebut, aku tetap bisa mencintai sosok tersebut tanpa harus takut ditinggalkan selamanya.

Aku bilang padamu bahwa pencarianku berakhir di kamu. Bahwa kamulah sosok tersebut, yang akan menjadi lubang hitamku, sebuah luka yang tidak pernah sembuh tapi kuikhlaskan karena rasa cintaku melampaui rasa takut akan kehilangan. Bukan karena perlahan luka tersebut mengering dan kemudian menutup seperti sebelum sebelumnya, tapi karena aku memutuskan bahwa lubang hitam itu adalah bagian dariku dan akan kubawa terus meski waktu bersikeras untuk menghapusnya.

Lantas, akan jadi apakah kamu? Satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh tahun dari sekarang apakah kamu hanya akan menjadi babak kehidupanku? Seseorang yang pernah bersamaku dan mengajariku berbagai hal untuk kemudian di ceritakan terkadang ke teman-teman, keluarga, atau pasanganku? Betapa menyedihkannya dan sementaranya kehidupan dan perasaan ini, seseorang pernah menjadi sosok terpenting dalam hidupmu dan melewati masa masa krusial bersamamu untuk kemudian hanya menjadi memori yang perlahan menghilang.

Masa depan begitu kabur, begitu sering berubah, sebagaimana juga perasaan manusia. Bahkan aku yang selalu berbangga hati akan kekeras kepalaanku dan keyakinanku terhadap pilihan pilihanku pun terus berubah. Aku yang dulu pernah mengira bahwa Sang Putri adalah belahan jiwaku dan aku tidak akan pernah mencintai siapapun selain dia akhirnya sampai pada titik ini, jatuh cinta lagi dan lagi.

Hari ini, 18 hari sebelum hari yang seharusnya menjadi hari jadi kita yang ketiga tahun, aku memutuskan untuk merekammu dalam tulisanku. Sebuah bukti bahwa aku pernah sangat sangat jatuh cinta pada seseorang hingga aku memutuskan untuk bunuh diri dibanding tidak bersamanya. Aku memutuskan untuk merekam perasaan ini bahwa aku masih terus berharap kamulah akhir pencarianku. Dan jika pada akhirnya ternyata kamu hanyalah babak dalam kehidupan yang kemudian akan terlupakan seiring bergulirnya waktu, aku tetap berterima kasih karena denganmu aku belajar bagaimana nyaris mati menyadarkanku bahwa aku sangat mencintai dunia ini dan seisinya.

Akan kurekam dalam tulisan ini memori tentang berbatang-batang rokok di Jasons, kaleng Nescafe Originalmu dan Nescafe Latteku, gelas-gelas minuman di Beer Garden dan Camden, Jakarta di musim penghujan, obrolan dan nyanyian di Chevrolet Spark, Nissan March, dan Avanza, perjalanan macet melalui Sudirman menuju Galeri Nasional yang dilanjutkan dengan gelas-gelas minuman lainnya di Melly’s dan berakhir dengan aku yang menggenggam tangan dan menciummu untuk pertama kali di kamarku, bertemu dan berbincang dengan sahabatmu untuk pertama kalinya di 365 Eco Bar, ke Bandung berdua untuk pertama kalinya dan kembali dikenalkan ke teman-temanmu, hari hari di Galeri Nasional sesudahnya, malam aku menyakitimu pertama kali dengan perkataanku dan kamu yang bertahan dan aku yang tidak bisa melepaskanmu, perpisahanmu di tempat karaoke di FX, pertemuanmu dengan sahabat-sahabatku di Tanamera, bandara Soekarno-Hatta dan aku yang kehilangan setengah dari nyawaku, hari hari yang terbalik, ribuan jam yang dihabiskan dalam video call, kunjungan ke New York, menyebrangi Brooklyn Bridge, merasakan penggalan penggalan kehidupanmu di New York, menyusulmu ke ujung benua lainnya, kebersamaan dan kebahagiaan luar biasa yang berakhir terlalu cepat, kepulanganmu dan kehancuranku melihat kamu yang lelah, sedih, dan terluka, lorong rumah sakit, malam malam penuh kekhawatiran, dan tarik ulur tidak berkesudahan setelah mengucapkan perpisahan.

Aku ingin menjadi sepelupa kamu, karena seringkali ingatanku yang terlalu detil kemudian berbalik menyiksaku. Aku masih terus merekam setiap ekspresimu, setiap baju yang kamu gunakan, setiap hal yang kamu utarakan, hal hal yang mungkin tidak kamu ingat tapi terekam dalam memoriku. Tapi, sebaik-baiknya pengingat pun, akhirnya akan kalah pada sang waktu.

Hingga detik ini aku masih mengingat tiap detil di hari Rabu, 8 September 2003 ketika Papa dibawa keluar rumah, tampak tertidur lelap dan kembali lagi ke rumah berbalut baju putih. Aku ingat ekpresi Mama, ekpresi pilu orang-orang terhadapku, jajaran bunga-bunga, perjalanan menuju airport, Papa yang terbaring di pendopo rumah Blayu, menaburkan tanah ke petinya, dan detil detil yang setelah 15 tahun harusnya tidak lagi kuingat. Tanpa merekammu di tulisan ini, bertahun tahun setelah ini, atau bahkan berbulan bulan setelah ini masihkah akan terus kuingat bagaimana kamu duduk di seberangku, diterangi temaram lampu Beer Garden, suara hujan yang menetes perlahan, kamu yang meraih lenganku dan melihat jam tanganku untuk kemudian melepaskannya lagi setelah kamu tau dari mana asal jam itu. Tanpa merekammu di tulisan ini, masihkah aku akan mengingat bagaimana aku melihat kekecewaan di matamu dan ulu hatiku memberontak karena itu meskipun saat itu kita hanya dua orang teman yang berbagi keluh kesah akan pekerjaan? Masihkah aku akan mengingat bagaimana kamu menarik lenganku untuk berbagi payung sembari kita menunggu taksi dan jantungku mencelos sesaat dengan sentuhan itu? Masihkah aku akan mengingat di malam itu, aku telah jatuh cinta tanpa kusadari dan masih terus jatuh hingga saat ini.

Pada akhirnya, sebagaimana banyak atau bahkan semua hal dalam kehidupan, akan terus ada pertanyaan pertanyaan yang memang tidak ada jawabannya. Jika kamu kemudian menjadi babak dalam hidup yang akan terkikis waktu atau rongga kosong dalam jiwa yang tidak bisa tertutup selamanya aku kemudian akan bertanya lagi untuk apa semua rasa sakit, cinta, dan semua emosi ini. Aku kemudian akan bertanya pelajaran apa yang bisa kuambil dari sini. Pertanyaan pertanyaanku akan terus berlanjut tanpa akhir dan akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah berdamai dengan pertanyaan tidak terjawab tersebut dan lagi dan lagi bangkit kembali, sesakit apapun, sejatuh apapun. Aku sudah sejauh ini, sudah menyapa kematian, menghindar kehidupan, jatuh ke palung terdalam, kembali muncul ke permukaan.

Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir. Berbahagialah, dan bangkitlah sayangku, setengah dari jiwa dan ragaku, hidup terus bergulir untukmu dan untukku. Nikmatilah apa apa yang sudah ditawarkan oleh kehidupan ini, sungguh beruntung orang orang yang pernah jatuh cinta seperti ini dan patah hati hingga seperti ini, sungguh beruntung kita berdua karena telah mencintai satu sama lain.


“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

Soe Hok Gie.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.